Logo_Immanuel

Home  |  About Us   |  Products  |  Information  |  Store Location  |  Contact  

TEOLOGI ABU-ABU

Rp136.000

Teologi Abu-abu adalah posisi teologi kaum pluralis. Karena teologi yang mereka bangun merupakan integrasi dari berbagai warna kebenaran dari semua agama, filsafat, dan budaya yang ada di dunia. Alkitab dipakai hanya sebagai salah satu sumber, itu pun dianggap sebagai mitos. Dari perpaduan multi kebenaran ini, lahirlah teologi abu-abu, yaitu teologi bukan hitam, bukan juga putih, bukan teologi Kristen, bukan juga teologi salah satu agama yang ada di dunia ini. Inilah teologi abu-abu yang dengan bangga ditawarkan oleh kaum pluralis, sebagai teologi yang sempurna dan sangat tepat untuk menjawab persoalan fenomena pluralitas agama dan budaya di dunia. Namun teologi ini sedang meracuni, baik agama Kristen, maupun semua agama, dengan cara mencabut dan membuang semua unsur-unsur absolut yang diklaim oleh masing-masing agama. Kaum pluralis sedang bermimpi untuk mengulangi keindahan Taman Eden, dan membangun kembali menara Babel, namun sayang teologi mereka yang abu-abu tersebut hancur bersama dengan hancurnya menara Babel.

Pertanyaan yang seringkali dialamatkan kepada mereka, kaum pluralis, yaitu: apakah kaum pluralis Kristen yang notabene adalah para dosen sekolah tinggi teologi dan para pendeta jemaat, sudah memperoleh atau mengalami keselamatan dalam Yesus Kristus? Kita sudah tahu dan percaya bahwa keselamat- an hanya ada di dalam dan melalui Tuhan Yesus saja. Alkitab menyaksikan bahwa hanya mereka yang percaya kepada Tuhan Yesuslah yang diselamatkan. Penulis seringkali menjawab pertanyaan seperti di atas, dengan kembali mengemukakan pertanyaan seperti: Apakah kaum pluralis Kristen percaya kepada Yesus Kristus? Secara eksplisit, mereka mengakui bahwa mereka percaya Yesus. Persoalannya adalah kalau mereka percaya Yesus, Yesus yang mana? Sebab dengan terang-terangan mereka mengakui Yesus dalam Alkitab sebagai mitos para penulis Injil. Mereka tidak percaya bahwa Yesus sebagai satu-satunya Allah, kebenaran final Allah. Dengan kata lain, mereka mengakui adanya keselamatan di luar Yesus. Sehingga dapatkah mereka dan kita berkata bahwa mereka selamat? Akhirnya apakah yang akan kita katakan lagi mengenai kaum pluralis? Mari kita memiliki kerinduan seperti sikap Paulus saat mengomentari kedegilan orang Israel yang tersandung dengan finalitas Yesus dalam Roma 10:1-3.

Ditulis oleh Pdt. Dr. Strevi L. Lumintang